Tag Archives: rumah

Kredit Pemilikan Rumah aka KPR aka “Mortgage” (1)

Pangan, Sandang, dan Papan merupakan kebutuhan primer manusia, urgensinya adalah sesuai dengan urutannya. Pangan terlebih dahulu untuk energi , Sandang untuk menutup aurat, serta Papan untuk tempat tinggal dan berteduh. Nah, menurut survei BPS menerangkan bahwa secara per kapita penduduk kita rata-rata menyisihkan 20% dari penghasilannya untuk tempat tinggal/papan. Nah bagaimana dengan kita? Kalo masih tinggal di rumah orang tua ataupun pondok mertua indah pasti masih 0% dong, hehehehe. Namun bagi yang sudah beli rumah sendiri atau ngekos pasti merasakan pengeluaran yang lumayan.

Kenaikan harga rumah memang sudah hampir di luar kewajaran, kemarin saya keliling mencari rumah yang dijual, ada dua perilaku yang saya tangkap.

Yang pertama untuk para penjual rumah second, mereka cenderung menilai tinggi harga rumah mereka dibandingkan dengan harga pasarBagaimana mungkin rumah di Jakarta namun harus masuk gang sempit yang bahkan mobil tidak dapat masuk dihargai hampir 1 milyar, seriously selain tidak bisa dibeli melalui mekanisme KPR saya rasa orang yang mempunyai uang kas sebanyak itu akan mencari lokasi yang lebih baik.

Yang kedua, untuk penjual rumah baru atau pengembang biasanya menggunakan teknik marketing untuk mendongkrak harganya, biasanya berkata bahwa yang tersedia hanya tinggal 2 unit padahal masih banyak yang belum terjual atau menakut-nakuti konsumen bahwa besok harga naik sehingga secara psikologis membuat calon konsumen merasa harus cepat-cepat deal agar tidak kehabisan dan mendapatkan harga yang terbaik.

Kok jadi curcol nih, maklum sebulan kemarin banyak keliling mencari rumah sehingga masih agak kesal sama penjual-penjual tersebut yang kami rasa sudah overprice. Bersambung dulu yaaaa ke post selanjutnyaaaa……..

Tinggalkan komentar

Filed under piece of mind

Menghitung Nilai Wajar Properti

Beberapa waktu yang lalu ada obrolan di sebuah milis SSR yang bercerita bahwa banyak rumah di bilangan Serpong kosong tidak berpenghuni a.k.a. kosong. Kenapa?

Kita tahu harga rumah terutama di bilangan Bintaro Serpong naik drastis beberapa tahun terakhir ini, oleh karena itu banyak orang yang memiliki dana lebih membeli rumah dengan harga milyaran meskipun di daerah suburban seperti Serpong. tujuannya apa? biasanya untuk investasi, dan sebagian untuk ditinggali sendiri. Kita tahu konsep investasi properti, selain diharapkan kenaikan harga rumah tentu pemilik juga mengharapkan cashflow tahunan dari sewa rumah.

Investasi Properti = Capital Gain + Penghasilan Sewa

Biasanya tarif sewa per tahun sebesar 5% – 8% dari harga rumah. Perhitungan sederhananya apabila ada rumah seharga 1 milyar, maka biaya sewa per tahunnya adalah antara 50 – 80 juta per tahun. Namun keadaannya tidak selalu seperti itu, beberapa kolega saya memulai usaha PAUD di daerah BSD dengan menyewa sebuah rumah seharga 30 juta per tahun padahal menurut pemilik dan broker harga pasar rumah itu adalah 1,2 Milyar. Jadi tarifnya hanya 2,5% dari harga pasar rumah. Karena tarif sewa yang relatif rendah itulah banyak pemilik properti memilih untuk mengosongkan rumahnya daripada disewa dengan harga relatif rendah.

Melihat harga-harga rumah di pinggiran Jakarta yang naik tidak terkendali saya jadi berpikir, harga yang dipasang para pengembang ini berdasarkan apa? Demand Supply? harga psikologis? Dimana ada pengembang yang selalu mengancam dengan “Senin Harga Naik!” atau dengan menggoreng harga selama masih laku.

Developer (D): Bikin Rumah ah, dijual 200 juta. (laku keras)

D: Wah coba minggu depan naikin 10%, jual 220 juta (laku keras lagi)

D: Wah abis, naikin lagi 10%, jual 242 juta (lagi lagi laku keras)

dst.

Semakin banyaknya kelas menengah, mudahnya proses kredit KPR, dan mempunyai rumah sebagai simbol kemapanan hidup merupakan faktor yang mendukung tingginya penjualan rumah.

Bagaimana menilai harga wajar properti? Kalau saya berpendapat nilailah harga wajar properti tersebut dari harga sewanya, apabila harga sewa 6 juta setahun dengan menggunakan asumsi faktor biaya sewa 6% maka dihitung 6 juta x (100%/6%) = 100 juta. Jika ternyata harga pasar tersebut lebih dari hitungan dan asumsi kita maka rumah tersebut telah overvalued. Perhitungan ini sangat subjektif dan masih ada kelemahan, sehingga mohon maaf apabila ada yang tidak berkenan.

Demikian, sewa atau beli tetapkan pilihan anda. Kita tidak menghakimi 🙂

Semoga bermanfaat.

ada liputan khusus kontan tentang KPR di http://lipsus.kontan.co.id/v2/kpr dan ada liputan khusus yang menarik di http://lipsus.kontan.co.id/v2/kpr/read/121/Bubble-properti-atau-hanya-over-price

6 Komentar

Filed under perencanaan keuangan, piece of mind

Ingin Efisien? Belilah Tempat Tinggal Dekat “PSK”

Pernahkah kita mengevaluasi kehidupan kita sehari-hari? Berapa menit perjalan pergi dan pulang kantor? berapa menit kita mengantar dan menjemput anak ke sekolahnya? seberapa efisienkah kita menjalani waktu dalam hidup?

Terinspirasi dari tulisan Mas Roni Yuzirman tentang hidup minimalis, sebaiknya kita bertempat tinggal di dekat PSK bahkan kalau perlu bisa ditempuh dengan hanya berjalan kaki. Eits, jangan berpikir macam-macam terlebih dulu. PSK yang saya maksud ini adalah Pasar, Sekolah, dan Kantor.

Menurut pengalaman saya paling memakan waktu dan uang adalah  transportasi ke sekolah dan tempat kerja. Coba bayangkan apabila 3 tempat tersebut bisa ditempuh dengan berjalan kaki, BBM naik berapapun kita tidak akan khawatir dan kualitas hidup kita akan meningkat.

Mungkin sulit mendapatkan rumah dengan lokasi seperti itu tapi bukan berarti tidak bisa, paling tidak 2 dari 3 lah.

Wassalam

Tinggalkan komentar

Filed under perencanaan keuangan, piece of mind

Home sweet home,,,,

dimanapun kita menetap sekarang, tempat paling nyaman adalah rumah sendiri,, rumah yang kita tempati sejak kecil. Honestly, it’s the most comforting zone to me,,,

pos dan sawah deket rumah

rumahq istanaq, rumah ortu sii.. hehehe

rumahq istanaq, rumah ortu sii.. hehehe

Baca lebih lanjut

6 Komentar

Filed under Gw Aku Kula Ambo, Uncategorized