Category Archives: piece of mind

Mbah Pijet

Di sebuah kota kecil di provinsi Jawa Timur, saya dibesarkan hingga lulus SMA. Sejak saya kecil ada seorang nenek yang mata pencahariannya tukang pijat yang dipanggil ke rumah, kami biasa memanggilnya “Mbah Pijet”, sejujurnya saya tidak pernah tahu nama aslinya. Waktu saya masih usia SD, beliau sudah cukup berumur, mungkin antara 60 sampai 70 tahun. Almarhumah Ibu dan saya memakai jasa beliau apabila sedang demam, masuk angin, keseleo, atau kecelakaan. Karena jaman itu belum ada teknologi komunikasi seperti sekarang, untuk memanggil beliau kami titip ART pulang pergi yang rumahnya dekat. Jarak rumah beliau dengan rumah kami sekitar 1,5 km, biasanya beliau datang dengan berjalan kaki atau diantar anaknya menggunakan sepeda motor.

Memori saya saat dipijat masih melekat dengan minyak tawon yang digunakan, pijatannya yang tidak terlalu sakit namun badan dibuat segar setelahnya. Pernah beberapa kali beliau cerita bahwa beliau punya langganan seorang dokter, lalu beliau bertanya kepada dokter tersebut kenapa masih menggunakan jasa pijat padahal menurut dia ilmu kedokteran cukup dapat membuat badan sehat. Pertanyaan yang polos dari seorang nenek di kampung. Dokter itu lalu menjawab bahwa dalam ilmu kedokteran pun pijat diperlukan untuk merelaksasi atau menyembuhkan rasa pegal di badan.

Setelah saya sudah tinggal di Jakarta, karena alasan jarak saya tidak pernah lagi memakai jasa beliau, sampai Ibu saya memberi kabar bahwa beliau telah wafat. Pada saat itu memori saya langsung kilas balik saat saya dipijat, bagaimana saya ketiduran, sedikit kesakitan, atau saat mengantar beliau pulang. Sampai saat ini saya apabila sedang dipijat selalu teringat beliau.

Tinggalkan komentar

Filed under piece of mind

Lebih Baik Sewa Atau Beli Rumah?

Dalam hidup kita harus mengambil beberapa keputusan yang memiliki dampak besar terhadap kehidupan kita selanjutnya, contohnya adalah tempat sekolah/kuliah, menikah, tempat kerja, dan keputusan untuk membeli tempat tinggal. Pembelian properti pertama ini adalah keputusan yang berani dan krusial, bahkan ada reality show di Kanada berjudul “Property Virgin”. Acara tersebut berkisah tentang seorang broker properti yang memberikan petunjuk kepada pasangan muda yang sedang mencari properti pertama mereka.

Lalu timbul pertanyaan dari benak saya, apakah memang kita harus membeli properti, atau dalam hal ini adalah rumah tinggal? Apakah kita harus terjerat dalam hutang belasan tahun yang tak kunjung usai? Saya melakukan perhitungan kecil-kecilan.

Saya mulai dari biaya sewa. Biaya yang kita keluarkan untuk menyewa properti secara umum adalah 3–5% dari nilai jual rumah, bahkan lebih rendah. Beberapa rekan menyewa properti hunian senilai 1 milyar atau lebih hanya dengan 25 juta rupiah per tahun. Misalnya dengan tarif tersebut dan terdapat kenaikan 10 persen per tahun selama 15 tahun, maka total biaya yang dikeluarkan adalah sebesar 794 juta.

Nilai tersebut jauh lebih rendah daripada apabila kita harus membeli dengan cara KPR, yang pertama kita harus menyiapkan uang muka minimal 10%, yaitu sebesar 100 juta rupiah. Dengan asumsi floating rate normal KPR perbankan sebesar 11% per tahun dengan utang 900 juta selama 15 tahun, maka muncul angka cicilan sebesar 10,229 juta rupiah per bulan. Selama 15 tahun maka uang yang dibayar total adalah sebesar 1,841 milyar rupiah, yaitu dua kali lipat dari pokok utang ditambah uang muka.

Tapi akhirnya kan saya dapat aset berupa properti hunian?

Betul sekali, dengan asumsi kenaikan harga rumah 10% per tahun, maka harga rumah tersebut menjadi 3,797 milyar rupiah 15 tahun kemudian.

Berarti saya ga rugi dong? Kalo sewa saya ga punya rumah sampai sekarang

Betul namun kita harus membandingkan selisih antara cicilan dan biaya sewa, selisih pada tahun awal adalah 8 juta lebih per bulan hingga pada tahun tahun akhir tinggal 2 jutaan, namun setelah dihitung apabila selisih tersebut diinvestasikan selama 15 tahun pada reksadana saham dengan asumsi return 12% per tahun (CAGR indek IHSG 2003–2018 adalah 19%) maka nilai uang tersebut menjadi 4,155 milyar rupiah. Yaitu masih lebih tinggi daripada nilai rumah pada perhitungan sebelumnya. Sehingga kesimpulannya apabila menurut perhitungan dengan keadaan di atas maka sewa terlebih dahulu lalu membeli rumah lebih menguntungkan.

Tentu perhitungan tersebut berlaku dengan asumsi-asumsi tersebut di atas dan negara dalam keadaan normal. Apabila asumsi berubah maka hasil perhitungan dapat berupah pula.

Kekurangan metode ini adalah tidak memperhitungkan perilaku ekonomi dan konsumsi masyarakat. Dalam perhitungan ini selisih antara biaya sewa dengan cicilan diinvestasikan ke reksadana saham, sedangkan biasanya masyarakat apabila mempunyai disposable income digunakan untuk membeli barang barang konsumtif. Selain itu juga belum diperhitungkan biaya kepemilikan rumah seperti pajak properti dan biaya pemeliharaan rumah.

perhitungan excel kami lampirkan di bawah, dapat anda gunakan untuk mengubah asumsi yang saya gunakan. Ditunggu kritik dan masukannya

file excel:
https://drive.google.com/file/d/1Bnmc4a9Mhh9jPUEPph71E2J58Urp4FAx/view

tulisan asli dapat diakses di

https://medium.com/@devino.rizki/lebih-baik-sewa-atau-beli-rumah-64f1481d704

Lihat di Medium.com

Lihat di Medium.com

Lihat di Medium.com

Tinggalkan komentar

Filed under bisnis, perencanaan keuangan, piece of mind

Sudah Ga Jaman Beli Mobil

Tren di atas mungkin akan terjadi beberapa tahun ke depan, karena semakin maju nya sharing economy. Di UK misal nya, data registrasi plat nomor kendaraan sudah turun 14% year on year. Apakah hal ini baik? Ya, untuk lingkungan dan lalu lintas. Pemerintah tidak perlu lagi menyiapkan lahan parkir yang memakan lahan yang cukup luas dalam lingkungan perkotaan, less car means less pollution, dan jalanan seharusnya tidak terlalu penuh maka kualitas hidup penduduknya akan meningkat. Dampak negatifnya mungkin pada industri kendaraan khususnya mobil. Akhirnya pertimbangan kita membeli mobil adalah apabila terdapat keadaan darurat seperti butuh kendaraan segera ke rumah sakit.

https://amp.theguardian.com/commentisfree/2017/oct/23/owning-car-thing-of-the-past-cities-utopian-vision
https://amp.theguardian.com/sustainable-business/2016/jul/23/car-sharing-helps-environment-pollution
Lots to lose: how cities around the world are eliminating car parks
https://www.theguardian.com/cities/2016/sep/27/cities-eliminating-car-parks-parking
http://uk.businessinsider.com/evidence-uber-destroying-demand-cars-2017-6

https://www.theverge.com/2016/10/3/13147680/uber-new-jersey-free-ride-parking-lot-train-commute

Tinggalkan komentar

Filed under piece of mind

Pemilu dan Krisis

Our Brand Is Crisis (2015)

Pernah menyaksikan film tersebut? Cerita tentang konsultan politik untuk sebuah pemilu presiden di Bolivia, berdasarkan cerita nyata presiden Gonzalo Sánchez de Lozada dengan perubahan nama dan bumbu drama. Capres yang tidak populer dan pernah menjabat presiden sebelumnya merekrut konsultan politik diri AS, yang kemudian membuat strategi untuk menaikkan popularitas capres dengan cara
1. Kampanye nya membuat seolah olah negara dalam sebuah krisis luar biasa dan butuh perubahan serta hanya dia yang mampu melakukannya (hutang, pekerja asing, dan agama)
2. Menaikkan popularitas capres ketiga untuk menggerus suara lawan utamanya
3. Menghembuskan berita palsu bahwa capres lawan terberat nya adalah simpatisan Nazi ( kalo disini PKI kali ya).

Ketika sudah terpilih, kebijakan presiden tersebut ternyata tidak sesuai ekspektasi yang membuat para simpatisannya berbalik dan ikut unjuk rasa

Strategi yang terus berulang dan semua itu hanya strategi untuk memenangkan pemilu. Ketika sudah terpilih, itu adalah hal yang berbeda. Saya tidak mendiskreditkan pihak tertentu, tetapi hanya mengajak kawan kawan untuk tidak polos betul terkait politik.

https://xx1.tv/movie/nonton-our-brand-is-crisis-2015-subtitle-indonesia-7yl/play
https://en.wikipedia.org/wiki/Our_Brand_Is_Crisis_(2015_film)

Tinggalkan komentar

Filed under piece of mind

Penak Jamanku To?

“Enak jaman ku kan?” Slogan yang sering kita baca di meme dengan foto presiden kedua RI, Pak Harto. Apakah jawaban kalian daripada pertanyaan ini? Kalo menurut saya jelas enak jaman Pak Harto.
Karena pada saat zaman orde baru, saya masih SD. Saya tidak perlu bekerja untuk membayar tagihan, masalah terbesar saya waktu itu hanya belajar dan uang jajan untuk main di rental playstation.

Tinggalkan komentar

Filed under piece of mind

Senjakala Gerai Retail?

Beberapa waktu yang lalu kita mendapat berita yang mendadak, bahwa Matahari retail memutuskan untuk menutup gerainya di Pasaraya Blok M dan Manggarai. Hal ini tidak mengejutkan buat saya, karena beberapa kali ke tempat tersebut memang sepinya ga ketulungan. Hal ini menurut saya menggambarkan perubahan perilaku konsumen dari belanja di pusat perbelanjaan menjadi belanja online. Masyarakat semakin dimanjakan oleh kemudahan belanja online dan apabila tren ini berlanjut akan makin banyak Gerai Retail yang akan tutup. Hal ini mungkin akan terus terjadi setidaknya di kota kota besar di Indonesia, namun pertumbuhan Gerai tersebut masih ada di kota dengan ukuran medium dan kecil.

Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan di Amerika Serikat telah banyak sekali Mal yang tutup. Sampai Dann Bell melakukan dokumentasi dalam channel youtube, The Dead Malls Series.

Terakhir, saya tanya seberapa sering anda pergi ke Mal? Makin anda jarang belanja di Mal makin cepat tren ini akan berlanjut.

https://www.ted.com/talks/dan_bell_inside_america_s_dead_shopping_malls/transcript

https://m.detik.com/finance/bursa-valas/3644595/matahari-tutup-gerai-di-pasaraya-manggarai-dan-blok-m-akhir-bulan-ini
https://m.detik.com/finance/properti/3574852/tak-cuma-perkantoran-mal-di-jakarta-juga-banyak-kosong

https://tirto.id/pasar-glodok-sentra-ekonomi-jakarta-sekarat-di-usia-senja-cu9v

Tinggalkan komentar

Filed under bisnis, piece of mind

Kekinian

Ponsel pintar terbaru dari Sa*su*g baru saja keluar, yang seri S9. Harganya sudah hampir setara motor baru. Apakah sepadan membeli sebuah ponsel pintar dengan harga fantastis?
Sejatinya belum ada peningkatan yang berarti dari teknologi tersebut, kalau pun ada peningkatan mungkin hanya kecepatan prosesor, resolusi layar, desain hape, atau kejernihan kamera. Hampir semua yang bisa dilakukan di ponsel pintar yang seharga motor dapat pula dilakukan oleh ponsel pintar 2 jutaan. Sehingga fungsi sudah bukan lagi merupakan pertimbangan utama pelanggannya, bahkan ane memakai ponsel pintar keluaran 2013 dan fungsi nya masih dapat mengakomodir kebutuhan saya. Jadi apa yang membuat ponsel mahal tersebut laku? Sederhana, karena menurut saya pembeli (merasa) mampu dan (merasa) butuh menggunakan nya.
Kenapa saya masih menggunakan hape keluaran tahun 2013? Jawaban saya klise, karena (soal ponsel pintar) saya kere.

1 Komentar

Filed under piece of mind

Gratifikasi

maxresdefaultUntuk profesional yang berkecimpung dalam bidang procurement (pengadaan), purchasing (pembelian), atau apapun yang terkait dengan pihak ketiga (vendor) baik di lingkungan pemerintah maupun swasta biasanya tidak asing dengan godaan gratifikasi.

Gratifikasi sendiri merupakan salah satu bentuk korupsi dan telah dilakukan penindakan dan pencegahan oleh KPK, namun terbatas hanya pada kasus yang melibatkan pejabat publik. Padahal definisi gratifikasi tidak terbatas pada kasus yang melibatkan pejabat publik, namun juga termasuk sektor swasta.

http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol21210/suap-di-sektor-swasta-belum-terjamah-hukum

http://www.andaka.net/blog/gratifikasi-dokter-kenali-dan-hindari/

Klik untuk mengakses ABC_Policy.pdf

Tinggalkan komentar

Filed under piece of mind, Uncategorized

Kredit Pemilikan Rumah aka KPR aka “Mortgage” (1)

Pangan, Sandang, dan Papan merupakan kebutuhan primer manusia, urgensinya adalah sesuai dengan urutannya. Pangan terlebih dahulu untuk energi , Sandang untuk menutup aurat, serta Papan untuk tempat tinggal dan berteduh. Nah, menurut survei BPS menerangkan bahwa secara per kapita penduduk kita rata-rata menyisihkan 20% dari penghasilannya untuk tempat tinggal/papan. Nah bagaimana dengan kita? Kalo masih tinggal di rumah orang tua ataupun pondok mertua indah pasti masih 0% dong, hehehehe. Namun bagi yang sudah beli rumah sendiri atau ngekos pasti merasakan pengeluaran yang lumayan.

Kenaikan harga rumah memang sudah hampir di luar kewajaran, kemarin saya keliling mencari rumah yang dijual, ada dua perilaku yang saya tangkap.

Yang pertama untuk para penjual rumah second, mereka cenderung menilai tinggi harga rumah mereka dibandingkan dengan harga pasarBagaimana mungkin rumah di Jakarta namun harus masuk gang sempit yang bahkan mobil tidak dapat masuk dihargai hampir 1 milyar, seriously selain tidak bisa dibeli melalui mekanisme KPR saya rasa orang yang mempunyai uang kas sebanyak itu akan mencari lokasi yang lebih baik.

Yang kedua, untuk penjual rumah baru atau pengembang biasanya menggunakan teknik marketing untuk mendongkrak harganya, biasanya berkata bahwa yang tersedia hanya tinggal 2 unit padahal masih banyak yang belum terjual atau menakut-nakuti konsumen bahwa besok harga naik sehingga secara psikologis membuat calon konsumen merasa harus cepat-cepat deal agar tidak kehabisan dan mendapatkan harga yang terbaik.

Kok jadi curcol nih, maklum sebulan kemarin banyak keliling mencari rumah sehingga masih agak kesal sama penjual-penjual tersebut yang kami rasa sudah overprice. Bersambung dulu yaaaa ke post selanjutnyaaaa……..

Tinggalkan komentar

Filed under piece of mind

Pengembalian Uang dari Agoda

Dalam perjalanan menuju Malang bulan Desember kemarin, saya dan keluarga memutuskan untuk singgah di Solo. Karena tidak ada rencana untuk singgah maka kita buru-buru pesan di Agoda via aplikasi di ponsel. Kemudian kita cek in di hotel sekitar pukul 11.00 dan keluar ba’da subuh. Tidak ada yang janggal, kecuali pada saat cek in istri saya ditanya apakah saya memesan 3 kamar padahal kita hanya memesan 1 kamar.

Screenshot_2013-12-20-19-22-44

Hari-hari berlalu dan saya disms bank penerbit kartu kredit saya seperti gambar di bawah ini

Screenshot_2014-01-09-15-55-33 Ahirnya saya telepon ke call center kartu kredit tersebut dan mengkonfirmasi yang terdebit adalah 900 ribu, 3 kali lipat dari yang seharusnya hanya 300 ribu. Saya telpon ke hotel, resepsionis bilang bahwa pemesanan tersebut sudah terdaftar dan sudah terbayar sehingga tidak dapat dibatalkan.

Sudah putus asa, akhirnya saya sampaikan komplain ke Agoda di situsnya. dan sekitar 2 minggu kemudian Alhamdulillah di refund kelebihan bayar sebesar Rp. 300.080,- x 2.

Screenshot_2014-01-09-15-56-27Benang merahnya menurut saya adalah apabila anda merasa dirugikan, janganlah hanya diam dan menerima nasib. Lebih baik kita berusaha dan mencoba yang kita bisa, insya Allah diberikan jalan.

14 Komentar

Filed under bisnis, piece of mind