Perbaiki atau Beli Baru?

Apabila barang kita rusak baik ringan maupun berat, maka kita mempunyai dua pilihan yaitu memperbaiki atau membeli barang sejenis yang baru. Manakah pilihan yang lebih ekonomis? Mungkin beberapa pengalaman saya di bawah bisa menjadi contoh.

Saya mempunyai motor bebek tahun 2007, hampir 7 tahun sudah menemani saya di Jakarta. odometer menunjukkan 52.000 KM atau bila di rata-rata telah berjasa mengantar saya sekitar kurang lebih 25 KM per hari. Dan selayaknya kendaraan yang sudah berumur, sepeda motor ini mulai bermasalah. Mulai dari lampu dekat yang tidak nyala karena kerusakan elektrikal, banyak bunyi-bunyi asing, dan indikator bahan bakar yang mulai ngaco.

Beberapa waktu lalu saya servis di bengkel milik sepupu istri saya di bilangan Jatiwaringin, ternyata ada beberapa sparepart yang rusak lalu saya meminta untuk diganti saja. Ternyata memakan biaya sekitar 600 ribu. Motor jadi lebih enak dikendarai dan bunyi-bunyi asing pun berkurang. Servis besar saya yang pertama sejak 5 tahun terakhir.

Ternyata setelah melihat harga motor sejenis, untuk harga baru sekitar 16 jutaan, sedangkan harga pasar untuk motor saya sekitar 6 juta. Lalu saya berpikir, manakah yang lebih ekonomis antara menjual motor lama dan membeli motor baru atau mempertahankan motor lama.

Setelah pengamatan yang (tidak begitu) mendalam disertai tanya jawab dengan beberapa montir, perawatan sepeda motor tidak terlalu mahal dan rumit. Katakanlah saya menyisihkan 50 ribu sebulan atau  600 ribu setahun untuk pemeliharaan motor, sudah lebih dari cukup. Hal ini jauh sekali dibandingkan dengan selisih harga motor yang mencapai 10 jutaan. Selama kerusakan sepeda motor masih dalam tahap ringan dan wajar menurut saya lebih baik dipertahankan karena replacement cost yang cukup tinggi.

Lain lagi dengan ponsel, suatu ketika ponsel saya jatuh ke dalam kubangan dan terendam air untuk beberapa lama. Setelah itu ternyata mati total. Untuk memperbaikinya saya rasa lebih dari harga pasarnya yang hanya sekitar 700 ribu, karena pasti akan ganti IC, LCD, dll. Sedangkan untuk membeli baru hanya dibutuhkan dana sekitar 700 ribu – 1 juta. Intinya adalah dana dan usaha yang dikeluarkan untuk memperbaikinya lebih besar daripada membeli baru. Akirnya saya putuskan untuk membeli baru ponsel seharga 999 ribu.

Sparepart ponsel berbeda dengan sparepart berkala seperti sepeda motor, mereka lebih spesifik dan jarang langsung ready stock.

Bagaimana dengan anda? 🙂

Iklan

5 Komentar

Filed under Gw Aku Kula Ambo

5 responses to “Perbaiki atau Beli Baru?

  1. klo sy seh lebih milih beli baru,, memperbaiki gak jauh beda biayanya dgn membeli baru, apalagi klo udh berusan dgn ponsel

  2. dadang

    benar banget.,kalo urusan kendaraan khususnya motor sbnarnya bisa kita perbaiki. onderdil mulai dari murmer sampe kuras kantong juga ada. asal kita telaten dan rajin,pasti bisa diperbaiki. beda dgn ponsel biaya service bisa 2x harga hp tsb. tapi kalo kendaraannya sudah waktunya ganti.,ya harus di tt/beli baru 😀 btw.,motor saya usianya udah 23 tahun. 🙂 😀 tapi masih setia menemani saya. hehheehehe… :p 😀

    • Iya, sebenarnya ada barang yang masih mempunyai nilai ekonomis untuk diperbaiki dan ada yang tidak. Waduh motor kok 23 tahun, motor c70? usia motor dan penggunanya lebih tua mana nih? hihihihi

  3. Adi

    Wah pas bener ini, lg galau mau beli baru apa serpis karena dana kepentok untuk nikah haha…

    Baru 15jtan
    Serpis paling gila 3jt
    Kalo tt palingan laku 5jt.. masih ada range 10jute.. hamsyong.. XD

    Thanks om artikelnya
    jadi refrensi nanti pertimbangan… 😀

Mohon Tanggapannya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s