Monthly Archives: Mei 2014

Perbaiki atau Beli Baru?

Apabila barang kita rusak baik ringan maupun berat, maka kita mempunyai dua pilihan yaitu memperbaiki atau membeli barang sejenis yang baru. Manakah pilihan yang lebih ekonomis? Mungkin beberapa pengalaman saya di bawah bisa menjadi contoh.

Saya mempunyai motor bebek tahun 2007, hampir 7 tahun sudah menemani saya di Jakarta. odometer menunjukkan 52.000 KM atau bila di rata-rata telah berjasa mengantar saya sekitar kurang lebih 25 KM per hari. Dan selayaknya kendaraan yang sudah berumur, sepeda motor ini mulai bermasalah. Mulai dari lampu dekat yang tidak nyala karena kerusakan elektrikal, banyak bunyi-bunyi asing, dan indikator bahan bakar yang mulai ngaco.

Beberapa waktu lalu saya servis di bengkel milik sepupu istri saya di bilangan Jatiwaringin, ternyata ada beberapa sparepart yang rusak lalu saya meminta untuk diganti saja. Ternyata memakan biaya sekitar 600 ribu. Motor jadi lebih enak dikendarai dan bunyi-bunyi asing pun berkurang. Servis besar saya yang pertama sejak 5 tahun terakhir.

Ternyata setelah melihat harga motor sejenis, untuk harga baru sekitar 16 jutaan, sedangkan harga pasar untuk motor saya sekitar 6 juta. Lalu saya berpikir, manakah yang lebih ekonomis antara menjual motor lama dan membeli motor baru atau mempertahankan motor lama.

Setelah pengamatan yang (tidak begitu) mendalam disertai tanya jawab dengan beberapa montir, perawatan sepeda motor tidak terlalu mahal dan rumit. Katakanlah saya menyisihkan 50 ribu sebulan atau  600 ribu setahun untuk pemeliharaan motor, sudah lebih dari cukup. Hal ini jauh sekali dibandingkan dengan selisih harga motor yang mencapai 10 jutaan. Selama kerusakan sepeda motor masih dalam tahap ringan dan wajar menurut saya lebih baik dipertahankan karena replacement cost yang cukup tinggi.

Lain lagi dengan ponsel, suatu ketika ponsel saya jatuh ke dalam kubangan dan terendam air untuk beberapa lama. Setelah itu ternyata mati total. Untuk memperbaikinya saya rasa lebih dari harga pasarnya yang hanya sekitar 700 ribu, karena pasti akan ganti IC, LCD, dll. Sedangkan untuk membeli baru hanya dibutuhkan dana sekitar 700 ribu – 1 juta. Intinya adalah dana dan usaha yang dikeluarkan untuk memperbaikinya lebih besar daripada membeli baru. Akirnya saya putuskan untuk membeli baru ponsel seharga 999 ribu.

Sparepart ponsel berbeda dengan sparepart berkala seperti sepeda motor, mereka lebih spesifik dan jarang langsung ready stock.

Bagaimana dengan anda? 🙂

5 Komentar

Filed under Gw Aku Kula Ambo

Usaha Sendiri, Bekerja Tanpa Bos?

Seiring meningkatnya kesejahteraan dan boomingnya kelas menengah di Indonesia, banyak orang yang menawarkan seminar menjadi kaya. Banyak jalurnya baik dari trading saham, komoditas, forex, properti modal dengkul, cara cepat jadi pengusaha dll. Intinya mereka menjual mimpi melalui seminar-seminar yang biasanya harganya lumayan mahal. Saya fokus di dalam kewirausahaan, banyak dari seminar tersebut medorong untuk segera action, seperti meninggalkan pekerjaan dan menikmati kebebasan menjadi wirausaha, tanpa bos, bisa berangkat siang, dll. Banyak dari peserta yang terbuai dengan pola pikir tersebut.

Banyak orang berpikir dengan berwirausaha kita tidak akan bos yang memberi kita tugas, ini adalah hal yang kurang tepat. Karena dengan berwirausaha, bos kita malah akan bertambah banyak. Mereka adalah

1. Konsumen

Pelanggan adalah Raja, frase ini menunjukkan bahwa pelanggan bahwa malah pelanggan lebih dari sekedar bos, tapi adalah raja. Konsumen adalah Bos yang paling utama yang harus dilayani, pelanggan tidak akan datang dengan sendirinya tapi dengan segala usaha dan upaya kita agar mereka mau membeli barang atau menggunakan layanan kita.  Kita harus mengerti kebutuhan mereka, pastikan mereka mau kembali sebagai konsumen berulang. Apabila pelanggan yang datang tidak kembali, kita harus bertanya-tanya terhadap layanan atau kualitas barang yang kita berikan.

2. Karyawan

Karyawan adalah salah satu faktor penentu dalam usaha. Menurut saya, hal paling sulit dalam usaha adalah manajemen SDM, bagaimana posisi kita sebenarnya adalah kita sebagai pemilik bisnis melayani mereka, agar mereka para karyawan dapat bekerja dengan baik untuk kelancaran bisnis kita. Bagaimana kita dapat bertindak sebagai pemimpin dan manajer yang baik.

3. Rekan Kerja (Pemasok dan Distributor)

Di beberapa tempat, khususnya perusahaan atau kantor yang berpola pikir feodal (biasanya perusahaan atau kantor pemerintah) beranggapan pemasok atau penyedia barang/jasa mempunyai posisi yang lebih rendah karena mereka yang punya proyek dan mereka yang menerima pembayaran. Sehingga mereka biasanya memperlakukannya semena-mena seperti melakukan pungutan yang cukup besar atau membayar barang yang mereka pasok dengan harga murah (e.g. pabrik tebu). Hal seperti ini perlu ditinggalkan, bagaimana seharusnya kita bertindak sebagai pihak yang setara, partner, bukan hubungan atasan bawahan. Bagaimana kita dengan efisien mendapatkan barang sesuai dengan kualitas yang kita cari dan membayar dengan harga yang efisien. Sudah tidak ada lagi tempat untuk korupsi.

4. Investor

Tujuan perusahaan modern dewasa ini adalah memaksimalkan nilai perusahaan atau kemakmuran pemegang saham. Bagaimana langkah kita meyakinkan mereka bahwa keputusan yang kita buat dalam jangka pendek atau panjang adalah untuk memajukan perusahaan. Atau bila masih dalam tahap mencari investor, bagaimana kita dapat meyakinkan mereka agar menerima ide kita dan menanamkan uangnya di perusahaan kita.

5. Pemerintah

Pemerintah berkepentingan terhadap usaha kita, terutama masalah pajak. Bagaimana kita sebagai warganegara yang baik sudah seharusnya taat pajak. Penggelapan pajak adalah kejahatan serius yang berujung pidana, saran saya adalah bayarlah pajak dengan tertib. Karena sesuai dengan PP 46 2013 mengenai Pajak UMKM hanya dikenakan 1% dari omset, saya rasa apabila bisnis UMKM tersebut marginnya cukup tinggi maka 1% akan terasa kecil.

6. Masyarakat

Jadilah lentera yang menerangi. Akan lebih baik jika usaha kita dapat memberikan nilai tambah kepada masyarakat dan lingkungan. Karena apabila usaha kita dianggap mengganggu maka mereka dapat menuntut ditutupnya usaha kita. Baru-baru ini beberapa usaha warnet ditutup karena meresahkan warga sekitar yang anaknya bermain tanpa kenal waktu.

Bagaimana? Lumayan kan? Apabila di kantor atasan hanya satu, apabila membuka usaha kita harus banyak mengakomodir kepentingan atasan-atasan kita tersebut. Anda mau buka usaha dengan motif agar bisa bersantai-santai? Coba dipikir lagi 🙂

1 Komentar

Filed under career, perencanaan keuangan