Pengalaman Kurang Baik dengan Commuter Line

Pada hari Sabtu lalu saya mengantar istri praktek ke kliniknya di daerah Kalideres. Saya berpikir untuk naik Commuter Line lewat Kalibata, karena apabila naik busway memakan waktu sekitar 2 jam, saya kira naik kereta akan lebih cepat. Akhirnya googling dan dapat bahwa ternyata harus turun dulu lewat Stasiun Duri baru naik yang jurusan Tangerang. Untuk jadwal saya menggunakan aplikasi Android Komutta.

Setelah itu saya berangkat dari kalibata dan membeli tiket ke arah Tn. Abang dan turun di stasiun Duri untuk transit ke Tangerang. Disana saya diarahkan oleh petugas ke kereta di seberang rel.

Setelah naik, tidak lama pukul 11.10 tepat sesuai jadwal kereta berangkat. Kebetulan di stasiun Pesing ada pemeriksaan karcis. Ternyata karcis saya hanya berlaku di Jakarta dan tidak bisa digunakan untuk Komuter ke Tangerang. Oleh kondektur saya disarankan turun dan membeli tiket lagi.

Saya turun di stasiun Pesing kemudian karcis Jakarta saya diambil kondektur, tidak lama kemudian ada gerombolan orang keluar tanpa menunjukkan tiket dengan alasan ngamen dan sedang angkut barang. Kemudian saya dan istri bicara dengan kondektur bahwa kita berdua tidak tahu apabila kereta ke Tangerang beli tiket lagi dan saya berniat beli tiket untuk meneruskan perjalanan saya.

Tiba-tiba saya ditunjukkan peraturan bahwa tidak mempunyai tiket kena denda 50 ribu dan kita disalahkan karena tidak mempunyai tiket. Akhirnya saya menjelaskan bahwa kita memang salah dan tidak tahu Yang ada saya disalahkan karena tidak bertanya, apakah seperti itu berhadapan dengan pelanggan?

Lalu saya bilang bahwa kami beritikad baik, dan saya harap kami tidak dipersulit. Setelah itu saya diajak ke loket pembelian, saya kira masalah selesai setelah saya beli karcis dan denda senilai harga karcis. Ternyata saya disuruh bayar denda 75 ribu, tentu saya tidak terima karena petugas telah membiarkan orang orang di depan kita keluar tanpa karcis dengan alasan malas ribut dan orang tsb tidak bisa diatur. Peraturan dibuat tidak pandang bulu, saya tidak terima karena perlakuan yang berbeda di depan mata saya. Dia marah dan menyamakan saya dengan pengemis dan pengamen, saya tidak terima dan bayar 20ribu dan saya buang kartu komuternya di depan petugas.

Sekedar saran untuk Commuter Line, bahwa sebaiknya seluruh pintu masuk dan keluar menggunakan pintu elektronik dan integrasi jaringan. Apabila memang terpisah jaringan keretanya mohon ada kontrol sebelum memasuki kereta. Dan saya akhirnya kapok naik kereta untuk sementara ini, karena kami telah rugi waktu, uang, dan tenaga untuk berurusan dengan petugas.

Demikian pengalaman saya, semoga kawan~kawan terhindar dari masalah dan pihak Commuter Line khususnya, PT. KAI umumnya agar terus berbenah diri agar tercipta transportasi umum yang Aman, Murah, dan Nyaman.

Wassalam

Iklan

4 Komentar

Filed under piece of mind

4 responses to “Pengalaman Kurang Baik dengan Commuter Line

  1. Erliss

    ya gitu deh Vin…. masih seperti mimpi rasanya untuk mendapatkan “sesuatu” utamanya masalah pelayanan publik di republik ini yg bisa sesuai dgn keinginan. Banyak hal yg terlihat seperti “lingkaran setan”. Njelimet.

    • Hahaha, Iya mbak Erlis
      Gimana kabarnya mbak? Sehat to 🙂

      Tapi kita kan juga termasuk pelayanan publik
      semoga kita tidak termasuk di dalamnya ya mbak

  2. meirna

    Maaf sy pu yg merupakan penguna cl dr tahun 2004 pun merssakan hal yg sama saat tiket terselip..petugasnya kasar, dan sy laporkan ke cs kai nomor 121.maswlwhnya petugas tetap kasar saat tiket ketemu..saya yakin klo misalnya tiket elektronik diberlakukan dengan jelas, maka tidak perlu lagi tukang catut tiket yg bersikap tidak sopan..bahkan klo ditanya kenapa ac mati dijawab, mana sy tau..semoga hal ini bisa mjd masukan buat pt kai..trims

    • Bahkan kawan cerita dia pernah menemui orang salah masuk kereta, akirnya dia bayar 50 ribu, tiketnya diambil tapi tidak diberi tiket pengganti. Sehingga waktu akan keluar kena petugas lagi. Tapi begitu ada masalah KRLnya mereka pada ngilang

      jadi galaknya cuma yang bisa digalakin, kalo sama pengamen ama preman malah takut. Cemen

Mohon Tanggapannya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s