Hutang Piutang dengan Saudara dan Keluarga

Hutang dalam keluarga

Pastinya sebagai anggota dari sebuah keluarga kita harus tolong menolong terhadap keluarga yang lain. Ada cara cepat merusak hubungan keluarga bahkan yang terdekat sekalipun dengan cepat, yaitu pinjamkan uang, lalu tagih. Dijamin ribut deh :p

Hutang Piutang seyogyanya merupakan hal yang dirahasiakan. Namun Hutang Piutang dalam Keluarga akan lebih susah menyimpan rahasia karena komunikasi yang intens, baik melalui telepon maupun bersilaturahmi langsung. Akan tersebar di seluruh keluarga bahwa si A berhutang pada si B, hal ini akan mengakibatkan wibawa si A dalam keluarga akan berkurang serta menimbulkan persepsi bahwa si B dapat dihutangi.

Nah, pada saat salah satu saudara anda sedang mengalami masalah keuangan dan ingin meminjam uang kepada Anda? Apa yang anda lakukan sebagai saudara?

Masalah hutang piutang dalam keluarga ini sangat rentan. Apabila ada saudara membutuhkan dan anda tidak meminjamkan, bisa merenggangkan hubungan apabila alasan anda tidak cukup kuat. Apabila dipinjamkan, kalau saudara tersebut tidak dapat mengembalikan pinjaman saat anda membutuhkan, Anda akan mulai kesal dan kehilangan respek. Kalau uangnya sedikit sih bisa diikhlaskan, kalau jumlah cukup besar dan berpengaruh terhadap kehidupan anda? Bisa berabe nih urusannya. Hal ini akan berkembang menjadi hal yang tidak sehat, terutama apabila ada acara keluarga, semuanya serba canggung dan tidak enak.

Pinjam saudara memang enak, lebih mudah, lebih cepat, lebih fleksibel, gak ribet, dan lain-lain. Sebabnya macam-macam, karena tidak ingin repot-repot berurusan dengan Bank atau memang tidak bisa mendapat pinjaman dari Bank. Kalau memang benar tidak dapat pinjam ke Bank, berarti beliau tidak memenuhi syarat untuk pinjam ke Bank. Hal tersebut menjadi alarm bagi kita.

Biasanya sih beberapa orang berpendapat apabila ada Saudara pinjam dalam jumlah besar, misalnya 10 juta. Berilah semampu kita, seperti misalnya 500 ribu – 1 juta namun sebagai pemberian dengan niat sebagai infaq / sedekah. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan perpecahan dalam keluarga.

Namun apabila anda memang tetap ingin meminjamkan uang, ada  saran dari Mas Aidil Akbar di artikelnya Minjemin Sodara, yaitu siapkan perjanjian hutang piutang bermaterai yang ditandatangani kedua belah pihak. Kalo saudara anda keberatan dengan alasan “Sama saudara aja kok pake gitu-gituan, gak percaya sama gue?” lebih baik urungkan niat anda, karena seseorang apabila memang jujur, beritikad baik mengembalikan pinjaman, dan membutuhkan akan dengan senang hati menandatangani perjanjian tersebut. Dan begitu juga sebaliknya.

Sederhananya, dalam perjanjian mencantumkan

1. Jumlah nominal uang atau barang yang dipinjamkan. Dengan angka atau tulisan seperti di kwitansi. Apabila barang ditulis nama dan nominal barangnya seperti 25 gram emas.

2. Tulis dengan jelas kapan uang tersebut dipinjamkan

3. Tulis dengan kesepakatan bersama cara pembayaran yang dilakukan peminjam. Per bulan, per tahun, atau sekaligus saat jatuh tempo.

4. Tetapkan tanggal jatuh tempo kapan kira-kira anda akan membutuhkan dana tersebut, mungkin saat anak anda masuk sekolah? anda ingin menikahkan anak? atau naik haji? bebas terserah anda

5. Beri pengertian dari awal bahwa pada saat jatuh tempo, uang diharapkan benar-benar sudah kembali. Kalau bisa ada jaminan yang bisa digadaikan apabila kebutuhan Anda sangat mendesak.

Oke sudah gak bingung lagi kan kalo ada situasi seperti ini,,, 🙂 Ini hanya merupakan opini dan bukan teori baku, anda bebas merespon dengan cara apapun  apabila anda berada dalam situasi tersebut

Nah, intinya sihhh,,, menjaga jangan sampai niat kita menolong saudara yang kesusahan malah menjadi biang perpecahan dan banyak mudharatnya.

apabila ada tulisan yang kurang berkenan harap diberi masukan ya,,, 🙂

Terima kasih

Iklan

6 Komentar

Filed under perencanaan keuangan, piece of mind

6 responses to “Hutang Piutang dengan Saudara dan Keluarga

  1. Anonim

    Sesungguhnya, semua ini telah kuperhatikan, semua ini telah kuperiksa, yakni bahwa orang-orang yang benar dan orang-orang yang berhikmat dan perbuatan-perbuatan mereka, baik kasih maupun kebencian, ada di tangan Allah; manusia tidak mengetahui apapun yang dihadapinya.
    Segala sesuatu sama bagi sekalian; nasib orang sama: baik orang yang benar maupun orang yang fasik, orang yang baik maupun orang yang jahat, orang yang tahir maupun orang yang najis, orang yang mempersembahkan korban maupun yang tidak mempersembahkan korban. Sebagaimana orang yang baik, begitu pula orang yang berdosa; sebagaimana orang yang bersumpah, begitu pula orang yang takut untuk bersumpah.
    Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusiapun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati.

    Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.
    Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap.
    Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari.
    Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu.
    Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu.
    Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari.
    Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.
    Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.
    Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.

  2. Anonim

    Itu kalo gak salah isi Alkitab,

Mohon Tanggapannya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s