Renungan Sesaat di Hari Raya Nyepi

Belum lama ini umat Hindu merayakan Hari Raya NyepiSaka 1934, bagusnya hari tersebut jatuh pada Hari Jumat sehingga kita kecipratan ikut libur untuk menghormati. Apa sih hari raya Nyepi itu? Menurut wikipedia adalah

Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktifitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa,brata,yoga dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).

Hari raya nyepi adalah ketika umat Hindu menjauhkan diri dari kegiatan-kegiatan duniawi dan mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Bagaimana caranya? dengan tanpa penerangan, tidak bekerja, tidak bepergian, serta tidak ada hiburan. Hal tersebut dilakukan untuk mempertajam batin mereka untuk menghubungkan jiwa dengan Tuhan serta untuk media introspeksi diri. Hal ini bukan hal baru, dari sejak zaman dahulu memang menyendiri serta menghindari kebisingan dan hingar bingar dunia dilakukan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam sejarah Islam juga mencatat bahwa wahyu pertama Nabi Muhammad SAW, yaitu surat Al Alaq 1 – 5 diturunkan pada saat Nabi sedang menyendiri di gua Hira. Seperti yang disebutkan pada situs haji dan umroh Tapi di gua Hira, Nabi Muhammad menerima wahyu pertama dari Allah yang disampaikan melalui Malaikat Jibril. Di gua tersebut, Nabi Muhammad menyendiri. Budaya khalwat [mengasingkan diri demi mendekatkan pribadi kepada hal-hal gaib], merupakan kebiasaan orang-orang Arab yang memiliki kecerdasan iman. Mereka kerap bertapa serta berdiam di gunung-gunung yang jauh dari keramaian. Tradisi tersebut bertujuan agar mereka diberi harta atau ilmu. Tetapi Nabi Muhammad tidak bertujuan untuk itu. Beliau menyepi dari masyarakat yang saat itu masih belum beriman kepada Allah. Di tempat sempit itu, Muhammad memikirkan sukunya yang sudah melupakan ajaran Nabi Ibrahim. Di Gua Hira, Muhammad menghabiskan waktunya dengan beribadah [tahannuf].

Saya tidak membandingkan antar agama, saya hanya mencoba memberi gambaran bahwa tradisi menyendiri dan menjauhkan dari kebisingan serta hiruk pikuk duniawi telah sejak lama menjadi media mendekatkan diri dengan Tuhan.

Hari Raya Nyepi merupakan salah satu bentuk perlambatan dalam dunia yang serba tergesa-gesa, dimana semua dituntut serba cepat. Terkadang kita memang perlu untuk melambat sejenak, mengistirahatkan pikiran kita, memperhatikan alam sekitar, serta melakukan perenungan sejenak dan meredifinisi kembali tujuan hidup (ciee, berat banget bahasanya). Dibalik semua tujuan rohani tersebut ada efek yang positif terhadap penghematan energi

Seperti yang tercantum dalam artikel Kompas bahwa saat nyepi konsumsi BBM bersubsidi berkurang sebesar 3000 kiloliter dan menurut berita vivanewsPLN menghemat 4 miliar karena turunnya beban puncak listrik. Keadaan Bali yang sunyi senyap senyap selama sehari saat Nyepi sempat dibahas pada UNFCCC (United Nation Framework Convention on Climate Change) yang berlangsung di Nusa Dua, Bali pada 3-14 Desember 2007. Dalam konvensi tersebut dibahas usulan menggunakan konsep Nyepi bagi masyarakat dunia dengan nama The Silent Day dan diperingati setiap 21 Maret. Tujuannya bukan untuk menghindukan dunia melainkan mengambil esensi penting dari Nyepi dalam mengatasi pemanasan global dan menjadi hari bebas polusi di seluruh dunia.

Selamat Merayakan Hari Raya Nyepi bagi Umat Hindu

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Gw Aku Kula Ambo, piece of mind, sightseeing

Mohon Tanggapannya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s