Monthly Archives: Januari 2008

Naif Sangadh – the sequel

Akhirnya posting lagi setelah vakum hampir sebulan karena sedang bersemangat baca manga,, hehehe. OK, inih lanjutannya:

 

Dengan ekspektasi yang tetap tinggi dan yakin pdktnya akan berhasil, Irul dengan semangat gabungan 45, 66, dan 98 teteup kekeuh melanjutkan perjuangannya mendapatkan Mawar. Tetapi karena terkendala jarak Jakarta-Surabaya, si Mawar yang cantik jelita, baik, solehah, dan berkerudung (kata si Irul) teteup menerima kontestan ajang seleksinya di rumah, sampai sang Ibu yang bijak menasihati Mawar

“Mawar, anakku sayang. Gimana kamu udah nemu yang ‘klik’ belum?” tanya sang Ibu

“Ada sih ma, tapi aku sendiri masih kurang yakin” jawab Mawar

“Kalo gitu kamu mending konsen ke yang satu itu ajah dulu, kalo cowok yang lain masih kamu terima kan kasian”

“Oh, gitu ya ma? Ya wis, aku konsen ke dia dulu ajah kalo gituh”

Percakapan Irul dengan Mawar zaman post nasehat-ibu-yang-bijak via pager (buset, emang masih ada yach hari gene?)

“Mawar, gimana kabarnya?” sapa Irul tanpa mengetahui apa yang akan dia hadapi

“Alhamdulillah baik, eh aku mo ngomong serius ni Rul” jawab Mawar

Waduh,tumben nih dia pengen ngomong serius. jangan-jangan dia mo kasih jawaban” batin Irul

“Oke deh, emang seserius apa sih sampe ganggu ritual hajatan rutin pagi guah? (which means bladder )” tanya Irul

“Emm, gimana ya ngomongnya. Gini Rul, aku kemaren dinasehatin ibu”

“Trus? Keep on, i’m listening.”

“Trus aku diberitau, kalo emang udah ada yang ‘klik’, ya konsentrasi mendalami yang itu aja”

“Jadi, siapa yang kamu pilih War? Bilang aja, aku siap koq dengernya”

 

jangan katakan War, kumohon jangan. Aku belom siap kehilangan kamu War, enggak masalah kamu enggak ‘klik’ ma aku yang penting aku masih bisa sama kamu” batin Irul berkecamuk, denial.

“Maaf Rul, tapi itu bukan kamu. Tapi kita masih bisa temenan koq, aku takut kamu jadi benci sama aku setelah aku bilang begini”

Blarrr,, sebuah petir nyamber ke liver, eh hati Irul. Mendengar jawaban yang sebenarnya udah ia duga, tapi teteup aja sakit. Well, patah hati itu perih jenderal!

“Errr, bukan aku yah? Sayang sekali kalau begitu. Iyalah kita masih temenan, aku masih boleh telpon kamu kan War?”

Mana bisa aku benci sama kamu, you’re too lovely to be hated. Yang aku benci adalah kenapa kamu gak ‘klik’ sama aku” batin Irul menangis. Tapi tidak dengan intonasinya, dia tetap terdengar tenang dan tegar. Demi Mawar.

“Boleh donk, kita kan temen. Tapi sebenernya aku udah konsen ama the one jadi maaf kalo gak bisa seperti dulu.”

“semoga kamu bahagia dengan pilihanmu”

kenapa bukan aku?” batin Irul bertanya

“Ok, Rul. Makasih ya buat semuanya, bubye”

“Oke deh, bye”

 

Ketika hubungan telepon terputus, Broken Heart Syndrome menghinggap ke dalam Pikiran, Jiwa, dan Raga Irul. Yang bertendensi untuk:

1. Bunuh diri dengan menggunakan pensil, penghapus, dan spidol

2. Lari telanjang keliling komplek

3. Pergi ke tempat prostitusi

4. Mabok-mabokan menggunakan campuran minyak tanah, alkohol, dan spirtus.

5. Telpon temen untuk datang dan mau dicurhatin

6. Solat untuk menenangkan hati.

Karena di kamar Irul tidak ada alat tulis, opsi pertama gugur. Opsi kedua dirasa tidak masuk akal karena tidak ada yang dapat dibanggakan dari badan Irul yang gendut. Opsi ketiga juga gugur karena Irul bukan tipe pria hidung belang, opsi keempat gugur karena minyak tanah sulit ditemukan. Jadi opsi kelima akhirnya dilakukan dengan memanggil bantuan ke kamarnya. Gak lama kemudian si Hamzy dan gua ke kosannya untuk memastikan dia gak bunuh diri dengan makan harddisk eksternal, err sayang harddisknya sih,, :p

Untungnya waktu si Hamzy datang, si Irul masih bernyawa dan masih mempunyai akal sehat. Huff, we’re so relieved that day. Well, life goes on man. With or without girls.

 

 

 

 

 

Iklan

4 Komentar

Filed under piece of mind